Schneiderlin Buat The Saints Koeman Terkendali
Adrian Clarke katakan pengaruh sang gelandang menjadi kunci terhadap keberhasilan Southampton musim ini
Southampton telah menetap di enam besar sejak menaklukan West Ham pada bulan Agustus
Southampton diperkirakan akan lengser dari posisi empat besar sebagaimana musim berlalu, tapi selama 25 pertandingan di musim 2014/15 Barclays Premier League, the Saints masih tampak mengesankan mengejar para tim favorit.
Dengan pertandingan penting melawan Liverpool pada akhir pekan ini, analis taktik kami Adrian Clarke telah mencermati lebih dekat tim kejutan tahun ini.
Jika saya harus menggambarkan Southampton asuhan Ronald Koeman dalam sebuah kata, maka itu adalah 'terkendali'.
Pelatih kepala asal Belanda tersebut telah membuat skuadnya sangat terkontrol dan disiplin dalam situasi defensif, sementara dalam hal penguasaan bola, mereka membiarkan bola mengalir dengan sendirinya. Dengan permainan kolektif yang baik dan mengambil risiko seminimal mungkin, mereka memiliki ketenangan yang baik. Pendekatan yang masuk akal ini membuat Saints hanya memberikan sedikit peluang bagi lawannya.
Hal ini mungkin menjelaskan mengapa mereka begitu sulit untuk dikalahkan setelah unggul. Musim lalu Southampton termasuk kandidat yang baik, memenangkan sebagian besar pertandingan saat mereka unggul, tetapi pada musim 2014/15 rekor mereka sangat fenomenal.
Hanya kebobolan empat gol dalam 14 pertandingan di mana mereka telah mencetak gol terlebih dahulu, skuad Koeman sangat mahir menutup pertandingan tanpa melakukan sesuatu yang berlebihan.
Sebaliknya, klub asal south-coast ini mengalami kesulitan membalikan kedudukan dari posisi tertinggal. Musim lalu mereka pernah membalikan kedudukan dan memenangkan pertandingan Barclays Premier League, dan secara statistik mereka terlihat lebih buruk di bawah pelatih baru mereka, kalah hampir sebesar 78% dari pertandingan di mana mereka telah kebobolan gol pembuka.
Pemain utama
Telah diperkiran bahwa Morgan Schneiderlin akan menjadi bagian dari kepergian besar-besaran para pemain dari St Mary’s di musim panas lalu, tetapi pemain Prancis tersebut tetap tinggal dan meneruskan pengaruhnya yang sangat baik.
Ketika pemain berusia 25 tahun tersebut menempati posisi di lini tengah bersama Victor Wanyama, motor penggerak tim memiliki sosok yang kuat dan pasangan tersebut berperan dengan baik, terutama dalam hal bertahan. Menjaga sektor penting dari lapangan dengan keatletisan dan keuletan mereka yang telah memainkan peranan penting dalam melindungi gawang Fraser Forster.
Tidak ada tim yang telah kebobolan kurang dari 66 tembakan ke gawang dibandingkan dengan yang telah dihadapi kiper Saints (2.64 per pertandingan), sehingga tidak mengherankan jika ia hanya memungut bola dari gawangnya sebanyak 17 kali dalam 25 pertandingan.
Pemain timnas Prancis itu juga memiliki kualitas dalam hal distribusi bola, dan telah mencatatkan akurasi passing yang baik dengan 89.2%.
Peluang bagi para pemain baru
Dusan Tadic dan Graziano Pelle sejak awal telah beradaptasi dengan gaya sepakbola Inggris namun penampilan cemerlang yang kami saksikan di minggu-minggu awal, sedikit memudar.
Saat musim panas dan musim gugur, jelas terlihat bagaimana Tadic (26) berulang kali beraksi di dalam kotak penalti, memberikan kreativitas yang sangat baik dan ancaman gol yang konstan. Namun dalam beberapa bulan terakhir ia kurang berkesan di zona terlarang.
Dengan kedatangan beberapa pemain gelandang serang yang lincah macam Sadio Mane dan Eljero Elia telah menambah opsi pemain serang Koeman, namun pemain asal Serbia belum kembali tampil dengan baik sejak kedatangan mereka. Pilihan mereka terkadang memaksanya untuk pindah dari sayap kiri (di mana ia sangat mengesankan dalam beberapa pertandingan awal) dan ini telah berdampak pada permainannya.
Ketajaman Pelle dalam beberapa pekan terakhir juga kurang terlihat, yang mungkin disebabkan oleh faktor kelelahan. Penyerang asal Italia tersebut telah tampil dalam 33 pertandingan untuk Feyenoord di semua kompetisi musim lalu; jumlah penampilan yang sama dengan musim 2014/15. Dengan masih absennya Jay Rodriguez, opsi Koeman telah berkurang, yang meninggalkan nya dengan sedikit pilihan di setiap pertandingan.
Kesimpulan
Kerja sama tim yang baik, keseimbangan dan juga bermain efisien merupakan inti dasar yang telah membantu Southampton mempertahankan posisi di papan atas klasemen Barclays Premier League. Tak ada kelemahan yang betul-betul signifikan sejauh ini.
Secara keseluruhan mereka mencatatkan 36 passing plus 71 sprint lebih sedikit tiap pertandingan dibandingkan musim lalu, dan secara kolektif mereka berlari 7km lebih banyak setiap kali tampil di musim 2013/14. Kini meskipun catatan tersebut lebih rendah, hasil yang ditoreh telah meningkat dengan drastis.
Bagaimana hal itu bisa terjadi? Langkah rekrutmen yang dilakukan Koeman telah luar biasa, ke sembilan pemain baru telah berdampak baik, namun justru gaya kepelatihannya yang jelas dan juga sederhana, yang telah membantu perjuangan mereka selama ini.
Di bawah asuhannya, Southampton justru menumbuhkan kedisiplinan yang sesungguhnya serta memperlihatkan kestabilan di luar penguasaan bola ketimbang sebelumnya. Saat dalam penguasaan bola mereka bermain lancar dan efisien.
Kendati untuk finis di urutan empat teratas masih merupakan tanda tanya besar, tetapi juga jangan mengharapkan penurunan yang drastis oleh the Saints dalam waktu dekat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar